Sabtu, 21 November 2009

Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah

Dua istilah tersebut terasa asing ditelinga kita. Dua istilah tersebut tidak kita temukan didalam kitab kitab tauhid yang lazimnya dipelajari di pesantren yang seluruhnya merupakan kitab karangan ulama-ulama terkemuka. Saya pertama kali mendengar istilah tersebut dari seorang mahasiswa yang ikut pengajian pada saat saya mengajar di Pesantren di kampung halaman saya. Ia menemukan istilah tersebut dari buku buku yang ia baca. Saya sempat heran, dari beberapa kitab yang telah saya pelajari yang terdiri dari kitab Jauharah At Tauhid dan Syarahnya, Kifayatul Awam, Tijan Ad Darary, Hudhudy dan Ad Dusuky, dan lainnya belum pernah saya menemukan istilah tersebut, Saya sempat membuka kembali kitab-kitab tersebut dan beberapa kitab lainnya untuk mencari pengertian dari dua istilah tersebut, tapi hasilnya nihil.

Akhirnya saya menemukan jawaban mengapa dua istilah tersebut tidak pernah ditemukan didalam kitab karangan ulama Ahlussunnah. Rupanya istilah Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah adalah made in Ibnu Taimiyah yang kemudian diadopsi oleh seorang ahli bid`ah yang sudah cukup kita kenal yaitu Muhammad bin Abdul Wahab pendiri gerakan wahaby. Seorang perusak agama yang telah dikhabarkan oleh Nabi dalam beberapa hadis. Jadi pantas saja dua istilah tersebut tidak kita temukan dan memang tidak akan pernah kita temukan dalam kitab kitab tauhid terkemuka. Karena pembagian tauhid kepada rububiyah dan Uluhiyah seperti yang mereka dakwakan memang tidak ada.

Salah seorang penceramah di Aceh yaitu tgk Qasem juga ikut terseret dalam hal tersebut. Hingga akhirnya ia dicap sesat oleh para ulama Aceh melalui keputusan Mubahasah para ulama di Krueng Geukuh pada tanggal 12 sya`ban 1430 H/13 agustus 2009 M, selain penjelasan agama yang ia terangkan mengarah kepada ajaran salik buta yang sesat, ia juga membedakan tuhid uluhiyyah dan rububiyah kemudian ia mengatakan bahwa tauhid Abu Tumin (Tgk.Muhammad Amin, pimpinan Dayah Babus salam blangbladeh adalah ulama yang hanya memilki tauhid Rububyah sedangkan guranya yaitu tgk Hanafiah Pulorungkom adalah ulama yang tauhidnya telah sampai tingkatan tauhid Uluhyyah. Jadi pantas saja bila Abu tumin tidak memahami penjelasan yang ia sampaikan pada masyarakat, demikian kata si Qasem Al bid`i.

Setelah membaca satu buku yang ditulis oleh santri pesantren lirboyo Kediri, saya mengutip sebagian besar isi buku tersebut tentang dua istilah tersebut supaya bermanfaat bagi orang lain.
Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya “Kasy Asy Syhubat” mendefinisikan tauhid dengan Ifrad Allah bil `Ibadah ( mengesakan Allah dengan ber ibadah ). Ia membagi tauhid kepada tiga macam : tauhid asma` wa sifat, tauhid Rububiyah, dan tauhid Uluhiyah. Satu pembagian yang memang belum pernah dilakukan oleh ulama ulama Ahlussunnah. Ada baiknya juga kita melihat bagaimana pengertian dari ketiga pembagian tersebut dan apakah pembagian tersebut merupakan hal ynag tepat?

1. Tauhid Asma` dan sifat

Tauhid Asma` dan sifat adalah meyakini keEsaan Allah ta`ala dengan segala kesempurnaan ynag mutlak dari berbagai sisi dengan segala sifat sifat agungNya. Implementasi dari tauhid ini mereka wujudkan dengan menetapkan apa ynag di tetapkan oleh Allah dan RasulNya untuk DzatNya yang berupa asma`(nama), sifat dengan cara yang sesuai dengan keagunganNya tanpa menafikan sedikitpun dari yang ada dalam Al Qur an dan Hadis , tanpa ta`thil (menafikan sifat dari Allah ), perubahan, dan tanpa tamsil (penyerupaan ) dan takyif serta menafikan apa yang telah dinafikan Allah dan RasulNya dari DzatNya yang berupa cela dan aib bisa mengurangi kesempurnaanNya.

2. Tauhid Rububiyah

Mereka mengartikan tauhid Rububiyah sebagai “hanya Allahlah yang Haq, yang memberi rizki, dan mengatur alam semesta “. Jadi siapa saja yang mengakui bahwa hanya Allahlah yang memberi rizki, dan mengatur alam ini maka orang tersebut telah memilki satu tauhid yang dinamakan dengan “tauhid Rububiyah“.

Menurut mereka tauhid rububiyah ini juga dimiiki oleh kaum musyrikin sebagaiman firman Allah

قل من يرزقكم من السماء والأرض أمن يملك السمع والابصر ومن يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي ومن يدبر الأمر. فسيقولون الله فقل أفلا تتقون.

“ katakanlah: “Siapa yang member kamu rizki dari langit dan bumi, atau Siapakah yang kuasa ( mencitakan ) pendengaran dan penglihatan dan siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan ynag mati dari yang hidup dan mengatur segala urusan ?Maka mereka akan berkata “Allah”,maka katakanlah “ mengapa kamu tidak bertaqwa kepada Allah “?( Q.S Yunus, 31 )

Kaum musyrikin mengakui bahwa Allahlah ynag telah menciptakan Ala mini dan mengaturnya, sehingga mereka dikatakan memilki tauhid rububiyah tetapi mereka tidak dikatakan beriman karena mengingkari tauhid Uluhiyah.

3. Tauhid Uluhiyah

Menurut mereka Tauhid Uluhiyah adalah bertauhid kepada Allah dengan menyembah Allah secara murni. Tauhid Uluhiyah adalah tauhid yang dibawa oleh para rasul. Tauhid ini sesuai dengan firman Allah

وما ارسلنا من قبلك من رسل إلا نوحي إليه أنه لاإله أنا فاعبدون.

“ dan tiadalah kami utus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya “ Bahwasanya tiada tuhan yang hak melaikan Aku, maka sembahlah Aku ” ( Q.S. Al - Anbiya 25 )

Menurut mereka tauhid Rububiyah juga diyakini oleh kaum kafir tetapi karena mereka tidak meyakini tauhid Uluhiyah dalam arti tidak mau beribadah hanya kepada Allah maka mereka tidak dihukumi mukmin. Tauhid Uluhiyah inilah yang menjadai pertentangan antara kauam musyrikin dengan para Rasul.

Tauhid Uluhiyah inilah yang menjadai biang keladi atas pengkafiran yang dilakukan kaum Salafiyah (wahaby ) atas kelompok kelompok Islam lainnya. Dengan bersanadar kepda Tauhid Uluhiyah mereka mengkafirkan kaum muslimin yang melakukan tawasul, istighasah, ziarah,memohon syafaat dan perbuatan lainnya yang diklaim syirik oleh kaum wahaby. Mereka menganggap bahwa dengan mengerjakan perbuatan tersebut berarti telah mencedrai kemurnian tauhid kepada Allah.

Orang yang pertama sekali melakukan pembagian tauhid kepada tiga sebagaimana diatas adalah Ibnu Taimiyah, seorang tokoh yang sudah tak asing lagi ditelinga kita. Akibat pembagian tersebut ia mendapat penolakan dan celaan dari para ulama pada masanya dan sesudahnya. Para ulama menolak pembagian ala ibnu Taimiyah bukanlah karena tidak mengakui adanya sifat Rububiyah dan Uluhiyah pada Allah ta`ala sebagaimana sering dituduhkan oleh kalangan Salafiyah (wahaby), karena semua sepakat bahwa hanya Allah lah yang yang menciptakan dan mengatur alam ini dan hanya Dialah ynag berhak untuk disembah. Para ulama hanya tidak setuju pada pembagian tauhid kepada tiga tersebut. Mayoritas ulama mengatakan dalil pembagian tauhid kepada tiga tersebut sangat lemah dan hanya mengada ngada.

Ada empat alas an yang dikemikakan para Ulama untuk menolak penbagian tersebut:


1. Pembagian tersebut tidak pernah dikenal sebelum masa ibnu Taimiyah. Rasulullah sendiri tidak pernah menberi isyarah kepada pembagian tersebut apalagi membaginya secara sharih (nyata). Demikian juga para shahabat, tabi`in, tabi` tabi`in tidak pernah menyebutkan pembagian tersebut.

2. Semua ayat dan hadis yang menjelaskan tentang tauhid bersifat mutlak tanpa adanya batasan atau embel - embel Uluhiyah dan Rububiyah. Misalnya hadis Mu`azd bin Jabal ketika beliau diutus Rasulullah ke Yaman, Rasulullah bersabda ” ajak mereka pada bersaksi bahwa tiada tuhan selian Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, maka bila mereka mengikuti kabarkan kepada mereka bahwa mereka berkewajiban melaksankan shalat lima waktu dam sehari semlam. Dalam hadis tersebut bisa kita ketahui seandaikan yang dimaksud Rasulullah adalah Uluhiyah (karena mereka telah meyakini tauhid Rububiyah) tentunya Rasulullah akan berkata kepada Mu`azd ‘’ajaklah mereka kepada tauhid Uluhiyah”.

3. Pembagian tersebut tidak memilki arti sama sekali, karena Ilah ( tuhan ) yang Haqq adalah Rabb yang haqq, dan Rabb yang haqq adalah Ilah yang haq . Tidak berhak untuk disembah dan di ta`lih (penuhanan) kecuali yang merupakan Rabb, dan tidak ada gunanya jika kita menyembah sesuatu ynag kita yakini sebagai Rabb (tuhan ) yang bisa memberi manfaat dan mudharat.jadi ta`lih (penuhanan) merupakan tuntunan dari pengakuan adanya sifat Rabb pada ilah. Hal itu tercermin dalam Q.S Maryam 65 :

رب السماوات والأرض وما بينهما فاعبده واصطبر
Dan dalam surat An Naml 25:

Dalam ayat tersebut member isyarat bahwa tidak layak kita bersjud kecuali pada dzat yang mempunyai kekuasaan dan kemampuan yang sempurna.

4. Banyak sekali nash Al Qur-an dan sunnah yang menggunakan kata rabb untuk menghengaki makna ila, antara lain:

a. Hadis tentang pertanyaan dua malaikat yang mendatangi mayit menyebutkan bahwa pertanyaan mereka adalah, “Man rabbuka “?Hanya tauhid Rububiyah, mereka tidak menanyakan tauhid Uluhiyah dengan menanyakan Man Ilahuka ? dan mayyit pun cukup menjawab Allah Rabby bukannya Allahu Ilaahy” sehingga andaikan ada orang kafir yang menbenarkan apa yang dibawa rasulullah saw dan mengakui Allah sebagai pencipta, pemberi rizki , dan lain sebagainya tetapi dia tidak mau mengakui bahwa hanya Allahlah yang berhak untuk disembah, maka orang tersebut tetap tidak akan diterima imanya .

b. Firman Allah dalam surat Al Fushshilat 30:

إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا
“sesungguhnya orang orang yang mengatakan” Rabb (tuhan) kami adalah Allah kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka….

Yang dikehendaki dengan kata الذين dalam ayat diatas tak lain orang orang mukmin yang sudah pasti mengakui Allah sebagi Rabb dan Ilah, namun Allah dalam menceritakan perkataan mereka menyebutnya dengan kata Rabb bukan Ilah. Dan ternyata Allah memuji mereka.Kalau memang tauhid Rububiyah dengan pengertian yang mereka (Muhammad bin abdul Wahab dan pengikutnya) buat benar maka tentu saja Allah tidak akan menceritakan perkataan orang – orang ynag beriman dengan kata Rabb tetapi dengan kata ilah.

c. Hadis Rasulullah saw tentang orang yang meminta washiyat jaami`ah kepada beliau. Beliau berkata :

قل ربي الله ثم استقم

“ Katakanlah “Rabb (Tuhan) ku adalah Allah kemudian istiqamahlah”.

Beliau tidak mengatakan قل إلهي الله ثم استقم tetapi beliau mengatakan ربي الله .Hal ini karena adanya keterkaitan (talazum) antara antara Rabb dengan Ilah, jadi keduanya tidak bisa dipisahkan seperti dakwaan Ibnu Taimiyah yang diikuti oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Hal ini menunjuki bahwa pendapat kaum wahaby yang tentang pembagian tauhid kepada uluhiyah dan Rububiyah adalah satu hal yang tidak memilki dasar dan dalil.

Adapun dalil yang dikemukakan oleh penggagas pembagian tersebut, Ibnu Taimiyah adalah penyebutan kata ilaah setelah kata Rabb dalam surat An Naas. Hal ini menunjuki kepada ketidak adilan Ibnu Taimiyah. Mestinya kalau ia bersikap adil, ia harus membagi tauhid kepada Mulkiyyah karena Allah menyebutkan kata Maalikinnas diantar kata Rabbinnas dan Ilaahinnas.
والله أعلم بالصواب

Share/Bookmark

Artikel yang berkaitan



0 komentar:

Poskan Komentar

komentar anda?